{"id":9838,"date":"2021-02-08T12:49:30","date_gmt":"2021-02-08T04:49:30","guid":{"rendered":"http:\/\/bappelitbang.banjarkab.go.id\/?p=9838"},"modified":"2021-02-08T12:49:41","modified_gmt":"2021-02-08T04:49:41","slug":"dampak-banjir-di-kabupaten-banjar-bappeda-litbangda-rilis-kajian-cepat-penilaian-kerusakan-dan-kerugian-berikut-datanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/?p=9838","title":{"rendered":"Dampak Banjir di Kabupaten Banjar, Bappeda Litbangda Rilis Kajian Cepat Penilaian Kerusakan dan Kerugian, Berikut Datanya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Satu\ndari 11 Kabupaten\/ Kota di Kalimantan Selatan yang paling terdampak banjir yang\nterjadi di awal tahun 2021 tadi adalah Kabupaten Banjar. Badan Perencanaan\nPembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda Litbangda) Kabupaten\nBanjar, baru-baru saja telah mengeluarkan kajian cepat penilaian kerusakan dan\nkerugian dampak banjir yang menerpa ribuan rumah, infrastruktur dan beberapa\nfasilitas sarana dan prasara, sektor sosial, sektor produktif serta bangunan\nperkantoran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Dari\nhasil kajian cepat menurut Kepala Bappeda Litbangda kabupaten Banjar, Dr. Hj.\nGaluh Tantri Narindra, ringkasan hasil nilai kerusakan dan kerugian pasca\nbanjir di Kabupaten Banjar mencapai Rp. 434.548.053.124 miliyar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Terdiri\ndari Perumahan sebesar 14%, sektor infrasturktur sebesar 52% yakni Transportasi\nDarat, Jalan, Air dan Sanitasi, Ruang Terbuka Hijau (RTH). Lalu sektor sosial\nsebesar 10,4% seperti Pendidikan, Kesehatan dan Keagamaan. Selanjutnya, sektor\nproduktif sebesar 22,5% antara lain Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan\nPeternakan. Ditambah lintas sektor 0,5% yaitu perkantoran pemerintahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">\u201cKajian\nIni mungkin akan berakhir di akhir Februari dan akan terlihat lagi totalnya,\npenilaiannya baru 30% berjalan. Angka ini bisa naik bisa turun, kenapa? Karena\nsaya sampaikan progress 30% itu termasuk cara kita menjustifikasi kerusakan\nringan, sedang sampai berat. Saat ini kan masih ada yang terendam, mungkin saja\nsekarangi kita justifikasi rusak berat ternyata tidak. Karena data yang kita <em>overlay<\/em> berdasarkan\nkawasan mana saja yang tergenang kita identifikasi,\u201d paparnya kepada\nRedaksi8.com melalui keterangan resmi, Senin (8\/2).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Menggunakan\nmetodelogi <em>ECLAC<\/em>,\nTantri sapaan akrab dirinya menerangkan, pengukuran kerusakan yang menjadi\ndampak langsung dan kerugian yang merupakan dampak tidak langsungnya,\nmenghasilkan perkiraan pendahuluan terhadap dampak atas aset fisik yang harus\ndiperbaiki dan diganti, serta terhadap aliran-aliran yang tidak akan diproduksi\nsampai aset diperbaiki dan dibangun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Dari\nkerusakan dia memaksudkan, perkiraan analisis dampak atas aset, saham dan\nproperti yang dinilai dengan harga unit penggantian adalah berdasarkan\nkesepakatan. Dimana perkiraan haruslah memperhitungkan apakah aset masih bisa\ndipulihkan lagi atau sama sekali hancur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Sedangkan\nkerugian sambungnya, aliran-aliran yang terkena dampak seperti pendapatan yang\nberkurang, pengeluaran bertambah selama periode waktu hingga pemulihan aset,\ndiukur dan dijumlah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">\u201cKerusakan\nitu dampak langsung, misalnya terhadap sebuah bangunan secara fisik rusak maka\nitu kita nilai langsung. Sedangkan kerugian adalah manfaat yang tidak dia\ndapatkan lagi selama terkena dampak banjir,\u201d jelas Tantri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Dari\ndata tersebut Tantri mengharapkan bisa memberikan informasi kepada pemerintah\npusat dan provinsi. Lantaran, secara prinsip anggaran bencana banjir tersebut\nbukan lagi bencana skala kabupaten atau provinsi, malahan sudah menjadi skala\nnasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">\u201cItu\ndibuktikan dengan kehadiran bapa Presiden ke daerah kita,\u201d Ia menukas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">\u201cSaya\nmengharapkan semua resources baik pemerintah, NGO (<em>Non-Governmental Organization &lt;-red<\/em>)\ndan swasta bisa men<em>support<\/em>\nKabupaten Banjar agar kembali sedia kala,\u201d pungkas wanita yang dinobatkan\nsebagai Srikandi Sungai Martapura itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Dari\ndata per (20\/1), redaksi8.com berhasil menghimpun ada sebanyak 27.368 rumah, 2\njembatan, 5 tempat ibadah dan 9 sekolah di 207 Desa dari 19 Kecamatan di\nKabupaten Banjar yang terdampak. Kemudian ada sebanyak 3 orang meninggal.\n190.929 jiwa terdampak dan 32.113 jiwa diantaranya harus mengungsi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Banjir\nKalsel berdampak kepada total 483.324 warga atau 139.537 KK. Sementara total\nrumah terendam sebanyak 99.361 unit. 21 korban meninggal dunia, dan 6 warga\nmasih hilang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Banjir\ndi Kalsel juga berdampak pada kerusakan 22 jembatan, 107 tempat ibadah, 75\nsekolah dan merendam jalan raya sepanjang 18.294 meter. Lahan pertanian seluas\n46,235 hektar juga gagal panen akibat banjir berhari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">11\nkabupaten\/kota di Kalsel ialah, Hulu Sungai Tengah, Banjar, Tanah Laut, Barito\nKuala, Balangan, Tabalong, Banjarbaru, Tapin; Hulu Sungai Selatan, Banjarmasin,\ndan Hulu Sungai Utara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"rata wp-block-paragraph\">Sementara jumlah warga terdampak banjir yang terbanyak berada di Kabupaten Banjar, Kota Banjarmasin 100.722 jiwa, dan Hulu Sungai Tengah 77.567 jiwa. (Sumber redaksi 8)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Satu dari 11 Kabupaten\/ Kota di Kalimantan Selatan yang paling terdampak banjir yang terjadi di awal tahun 2021 tadi adalah<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9839,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,4],"tags":[932],"class_list":["post-9838","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-bidang-infrastruktur-kewilayahan","tag-banjir"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=9838"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9838\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9840,"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/9838\/revisions\/9840"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/9839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=9838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=9838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bapperida.banjarkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=9838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}