BeritaBidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam

PERTANIAN MODERN DAN WISATA HIJAU JADI ARAH BARU PEMBANGUNAN PERDESAAN BANJAR

MARTAPURA – Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Bapperida Kabupaten Banjar terus mendorong lahirnya inovasi pembangunan kawasan perdesaan yang berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah pengembangan Agrovoltaic Eco Tourism Hub, sebuah konsep yang mengintegrasikan energi baru terbarukan, pertanian modern, pariwisata, serta pemberdayaan potensi lokal. Gagasan tersebut dibahas bersama tim peneliti dari Bappenas, Institute for Global Environmental Strategies (IGES), dan Citieslab sebagai bagian dari upaya mencari model pembangunan yang adaptif terhadap tantangan masa depan.

Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Bapperida Hj Anna Rosida Santi, Ketua Tim Peneliti IGES, Bijon Kumer Mitra, didampingi Satoshi Kojima dan Mika Tachibana, serta Dayinta Pinasthika dari Citieslab, Sekretaris Bapperida, Kabid Ekonomi dan SDA, Kabid Infrastruktur dan Kewilayahan, Kabid Riset dan Inovasi Daerah bersama Fungsional Perencana Muda.

Dalam pemaparannya, tim peneliti menilai Kabupaten Banjar memiliki modal yang sangat besar untuk mengembangkan kawasan terpadu berbasis ekowisata. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari sektor pertanian, tetapi juga wisata religi, produk unggulan daerah, pengolahan hasil perikanan, hingga kekayaan budaya dan sumber daya masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik ekonomi baru.

Konsep Agrovoltaic Eco Tourism Hub menawarkan pemanfaatan teknologi agrovoltaic, yaitu sistem yang mengombinasikan aktivitas pertanian dengan pembangkit listrik tenaga surya melalui pemasangan panel surya di atas lahan budidaya. Pendekatan ini diharapkan mampu mendukung terwujudnya smart farming atau pertanian pintar yang lebih efisien, ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor pertanian. Menurut tim IGES, transformasi ini juga menjadi solusi untuk meningkatkan minat generasi muda agar kembali melihat sektor pertanian sebagai bidang usaha yang modern, inovatif, dan menjanjikan.

Selain mendukung ketahanan pangan dan energi bersih, konsep tersebut juga diarahkan menjadi destinasi wisata edukatif berbasis lingkungan. Kawasan pertanian tidak hanya berfungsi sebagai lokasi produksi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai teknologi energi terbarukan, aktivitas pertanian modern, produk lokal masyarakat, hingga budaya dan potensi wisata daerah. Integrasi berbagai sektor ini diyakini mampu menciptakan nilai ekonomi baru sekaligus memperkuat pembangunan desa secara berkelanjutan.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Banjar menegaskan bahwa implementasi konsep agrovoltaic harus didasarkan pada kajian ilmiah yang matang. Bapperida mengusulkan agar pengembangan diawali melalui proyek percontohan (pilot project) guna menguji kesesuaian teknologi dengan kondisi lahan, karakteristik masyarakat, serta komoditas pertanian yang ada di Kabupaten Banjar.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pengaruh pemasangan panel surya terhadap produktivitas tanaman, khususnya padi. Tim peneliti menjelaskan bahwa dengan desain dan pengaturan jarak panel yang tepat, sinar matahari tetap dapat menjangkau tanaman sehingga proses budidaya tidak terganggu.

Dalam diskusi juga dibahas sejumlah alternatif lokasi yang berpotensi dijadikan kawasan percontohan, mulai dari lahan milik pemerintah daerah, kawasan pertanian masyarakat, kawasan perikanan, hingga lokasi yang memiliki potensi edukasi dan wisata. Tim peneliti menambahkan bahwa konsep serupa telah diterapkan di sejumlah negara seperti Jepang dan Bangladesh. Namun, setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga desain dan model implementasinya harus disesuaikan dengan kondisi lokal melalui kajian kelayakan, penyusunan desain teknis, identifikasi pola kerja sama, serta penjajakan berbagai sumber pembiayaan, termasuk peluang dukungan dari lembaga donor dan mitra pembangunan internasional.

Kepala Bapperida Kabupaten Banjar Hj. Anna Rosida Santi menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan Agrovoltaic Eco Tourism Hub hanya dapat dicapai melalui kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan perangkat daerah, pemerintah desa, kelompok tani, PLN, perguruan tinggi, mitra pembangunan, dan masyarakat menjadi kunci agar inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai konsep, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Banjar bersama IGES dan Citieslab akan melanjutkan pembahasan melalui forum dan workshop lanjutan untuk mematangkan konsep tersebut sebagai model pembangunan kawasan perdesaan yang menghubungkan energi bersih, pertanian modern, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.(Ione/Brigade Bapperida)